Home » » Cerminan Ibadahmu Terlihat dari Perbaikan Akhlakmu

Cerminan Ibadahmu Terlihat dari Perbaikan Akhlakmu

Jangan berbangga hati akan munculnya keistimewaan dalam dirimu atas inspirasi ilahiyah, jika itu tidak membuahkan hasil nyata untuk lingkunganmu.

Sebagian dari kita sudah merasa puas akan capaian ibadah yang telah dilakukan. Hingga kerap muncul perasaan bangga dan aman karena merasa sudah lebih baik dari orang lain. Padahal bisa saja hal tersebut yang justru membakar amalan ibadah yang telah diusahakan. Karena wujud nyata dari berkualitasnya ibadah seseorang adalah baiknya akhlak yang tercermin terhadap sesama. Ia membawa keberkahan dan kebermanfaatan tak hanya untuk keluarga dan kerabatnya, tetangga, masyarakat, bahkan makhluk Allah lainnya pun merasakan benih kebaikan yang senantiasa disebarnya.
perbaikan akhlak, ibadah, inti dari ibadah, jangan bangga dengan keistimawaan, benih kebaikan, hikam, kajian hikam semarang, pesantren doaqu, ustad riyadh ahmad

Kedekatan seorang hamba pada Allah sudah seharusnya menghasilkan buah untuk mengasihi sesama, juga untuk lingkungan, seperti tumbuhan maupun binatang. Ibarat sebuah pohon yang berdiri kokoh, cabang rantingnya memancar ke langit dan buahnya bermanfaat setiap saat. Benar bahwa bukti cinta pada Pencipta adalah dengan mengasihi sesama. Jika hubungan kita dengan Allah atau Habluminallah saja yang kuat, tidak disertai dengan hubungan kepada manusia atau Habluminannas yang kuat, maka ibarat pohon yang tidak berbuah. Manfaatnya tidak bisa dirasakan oleh orang lain. Sedangkan jika Habluminannas kuat, tetapi Habluminallah lemah, maka ibarat buah tanpa pohon. Sehingga bisa dikatakan bahwa buah tersebut adalah palsu atau plastik. Jadi terlihat seperti mendatangkan manfaat, padahal ia tidak membawa kebaikan apapun untuk sekitar.
Penting bagi kita untuk menguatkan keduanya, baik hubungan dengan Allah maupun hubungan dengan sesama. Seperti ibadah shalat yang Allah jadikan sebagai tiang agama untuk umat Islam, seharusnya menjadikan kita (yang melakukan shalat setiap waktu) lebih peka terhadap lingkungan. Disebut berkualitas shalatnya, jika seseorang mempuanyai akhlak yang baik terhadap siapapun. Sehingga tidak heran jika ia mungkin pertama kali yang mengetahui jika ada teman, tetangga, maupun keluarga yang kesusahan. Ia menjadi agen “rahmatan lil alamin” dimanapun ia berada sebagai bentuk kesungguhannya dalam mengabdikan diri pada Ilahi. Karena menjadi percuma dan sia-sia jika keseharian hidup seseorang diisi ibadah pada Allah, tetapi ia tidak memperdulikan orang lain. Misal mengetahui bahwa ada tetangganya yang sedang susah atau belum makan saja tidak, apalagi membantunya.
Allah berfirman dalam surat Al Ma’un, yang artinya:
“(1) Tahukah kamu (orang) yang mndustakan agama?, (2) Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, (3) dan tidak mendorong memberi makan orang miskin, (4) maka celakalah orang salat, (5) (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, (6) yang berbuat riya’, (7) dan enggan (memberikan) bantuan.”

Dalam surat tersebut, jelas bahwa Allah mendefinisikan pendusta agama sebagai orang yang tidak turut serta berpartisipasi dalam memperhatikan maupun memberikan bantuan (makan dan sebagainya) pada dhuafa dan anak yatim. Disebutkan juga bahwa golongan tersebut termasuk dalam hamba yang lalai pada salatnya. Patut dijadikan renungan bahwa bisa jadi ibadah yang dilakukan hanya sebagai penggugur kewajiban, bentuk rutinitas setiap hari tanpa berbekas di hati. Karena jika memang benar seorang hamba bersungguh-sungguh dalam ibadah kepadaNya, pasti akan tercermin dari sikapnya yang mulia pada ciptaanNya. Karena mencintai mahklukNya adalah bukti dari menghargai Sang Pencipta.

*Resume Kajian Hikam Semarang*
10 Oktober 2016

0 komentar:

Posting Komentar