Home » » NASEHAT RASULLULLAH KEPADA MUADZ BN JABAL

NASEHAT RASULLULLAH KEPADA MUADZ BN JABAL

Ada suatu cerita dari Rasulullah kepada sahabat Muadz bin Jabal terkait rahasia langit, Ada 2 cerita tentang ketajaman doa melintasi langit:


Pertama dari Muadz

Nabi menceritakan rahasia langit hanya kepada Muadz ketika Muadz mendampingi jalan-jalan Rasulullah:
Wahai Muadz, ALLAH SWT. menciptakan 7 malaikat sebelum ALLAH menciptakan langit dan bumi. Pada setiap 1 lapisan langit, ada 1 malaikat penjaga pintu langit itu sesuai kadar pintu dan keagungannya, Malaikat itu banyak, tidak hanya sebatas 10 nama yg kita kenal ada malaikat khusus yg ALLAH berikan tugas untuk menaikkan catatan amal seseorang hamba yang bernama Hafazhah. 


Suatu ketika Hafazhah naik membawa amal seorang hamba dari subuh hingga petang, amalnya tampak bersinar layaknya cahaya matahari. Namun ketika sampe di lapisan langit pertama, Hafazhah berjumpa dengan malaikat penjaga pintu langit pertama itu kepada Hafazhah, Tamparkanlah amal perbuatan manusia ini kepada wajah pemiliknya. Akulah "Shaahibul Ghiibah" ( Malaikat penjaga pintu langit pertama ), yg mengawasi perbuatan ghibah. Aku diperintahkan ALLAH untuk TIDAK  mengijinkan amalan ini untuk kau bawa ke pintu langit ke dua,kembalilah Hafazhah ke muka bumi. 

Naik lagi Hafazhah membawa amal manusia yg lebih baik dari yg ia bawa sebelumnya hingga bisa melintasi langit pertama. Namun di langit ke dua, Hafazhah diminta untuk menamparkan balik amal manusia yg ia bawa kepada wajah pemiliknya. Akulah " Malakal Fakhr " ( Malaikat pengawas kemegahan ), Aku diperintahkan oleh ALLAH untuk TIDAK mengijinkan amalan ini untuk kau bawa ke pintu langit ke 3, sesungguhnya orang yg amal yg kau bawa ini senantiasa memegahkan dirinya terhadap sesama manusia lain. Maka seluruh malaikat melaknat orang ini hingga petang hari.. Kembalilah kau ke bumi Hafazhah


Naik lagi Hafazhah membawa amalan hamba lainnya yang lebih bagus dari sebelumnya, yang memancarkan cahaya dari amalan-amalan shadaqah, shaum, Birrul Walidain yang dengan percayya diri Hafazhah membawanya. Namun ketika sampai di langit ketiga, Hafazhah diminta untuk menamparkan balik amal manusia yg ia bawa kepada wajah pemiliknya. Akulah "Shaahibil Kibr", malaikat pengawas kesombongan, Aku diperintahkan ALLAH untuk TIDAK mengijinkan amalan ini untuk kau bawa ke pintu langit ke-4,sesungguhnya orang yang amalnya kau bawa ini senantiasa berbuat takabbur dihadapan manusia lain di majelis-majelis mereka. Kembalilah kau ke bumi Hafazhah


Naik lagi Hafazhah membawa amalan hamba lainnya yang lebih bagus dari sebelumnya, yang memancarkan cahaya dari amalan-amalan bertasbih, shalat, shaum, haji dan umrah yang dengan percaya diri Hafazhah membawanya bisa melintasi langit ke 4. Namun ketika sampai di langit ke 4,  Hafazhah diminta untuk menamparkan balik amal manusia yg ia bawa kepada wajah pemiliknya. Akulah "Shaahibil Ujub", malaikat pengawas takjub diri, Aku diperintahkan ALLAH untuk TIDAK mengijinkan amalan ini untuk kau bawa ke pintu langit ke-5,sesungguhnya orang yang amalnya kau bawa ini senantiasa ujub ketika mengerjakan amal kebaikan dihadapan manusia lain. Kembalilah kau ke bumi Hafazhah


Naik lagi Hafazhah membawa amalan hamba lainnya yang lebih bagus dari sebelumnya, yang memancarkan cahaya dari amalan-amalan jihad, haji dan umrah yang dengan percaya diri Hafazhah membawanya bisa melintasi langit ke 5. Namun ketika sampai di langit ke 5,  Hafazhah diminta untuk menamparkan balik amal manusia yg ia bawa kepada wajah pemiliknya. Akulah "Shaahibil Hasad", malaikat pengawas perbuatan hasad. Aku diperintahkan ALLAH untuk TIDAK mengijinkan amalan ini untuk kau bawa ke pintu langit ke-6,sesungguhnya orang yang amalnya kau bawa ini senantiasa dengki ( hasad ) dan iri hati terhadap sesama yang sedang menuntut ilmu,beramal shalih, terhadap sesama yg berhasil meraih fadhilah-fadhilah tertentu dari ibadah dengan berusaha mencari cari kesalahannya. Kembalilah kau ke bumi Hafazhah


Naik lagi Hafazhah membawa amalan hamba lainnya yang lebih bagus dari sebelumnya, yang memancarkan cahaya dari amalan-amalan menyempurnakan wudhu,shalat,zakat,shaum,jihad, haji dan umrah yang dengan percaya diri Hafazhah membawanya bisa melintasi langit ke 6. Namun ketika sampai di langit ke 6,  Hafazhah diminta untuk menamparkan balik amal manusia yg ia bawa kepada wajah pemiliknya. Akulah "Shaahibil Rahmah", malaikat pengawas sifat kasih sayang. Aku diperintahkan ALLAH untuk TIDAK mengijinkan amalan ini untuk kau bawa ke pintu langit ke-7,sesungguhnya orang yang amalnya kau bawa ini TIDAK berbelas kasihan sedikitpun kepada hamba2 ALLAH yang sedang ditimpa musibah, sakit, bahkan mereka justru mereka bahagia jika hal demikian tadi menimpa saudaranya. Kembalilah kau ke bumi Hafazhah


Naik lagi Hafazhah membawa amalan hamba lainnya yang lebih bagus dari sebelumnya, yang memancarkan cahaya dari amalan-amalan shaum,shalat,nafaqah,jihad dan wara' yang dengan percaya diri Hafazhah membawanya bisa melintasi langit ke 7. Namun ketika sampai di langit ke 6,  Hafazhah diminta untuk menamparkan balik amal manusia yg ia bawa kepada wajah pemiliknya. Akulah "Shaahibil Dzikr", malaikat pengawas perbuatan mencari jatidiri. Aku diperintahkan ALLAH untuk TIDAK mengijinkan amalan ini untuk kau bawa ke Arsyil Adzhim ,sesungguhnya orang yang amalnya kau bawa ini suka sum'ah ( ingin termasyhur ). Kembalilah kau ke bumi Hafazhah


Naik lagi Hafazhah membawa amalan hamba lainnya yang lebih bagus dari sebelumnya,dengan sebaik baik amalan yg ada dimuka bumi, yang dengan percaya diri Hafazhah membawanya bisa melintasi langit ke 7 & Arsyil Adzhim. Namun ketika telah berhasil melewati langit ke-7 dan berada pada Arsyik Adhzim,  Hafazhah diminta untuk menamparkan balik amal manusia yg ia bawa kepada wajah pemiliknya. Akulah ALLAH - Ar-Raqiib- yang maha mengawasi atas segenap lapisan hati sanubari semua hamba-Ku.. Aku ( ALLAH ) TIDAK mengijinkan amalan ini untuk kau bawa ke singgasana-Ku,sesunggugnya orang yang amalnya kau bawa ini dengan amalannya tidaklah menginginkan Ridho-Ku,tidaklah mengikhlaskan ibadahnya hanya untuk-Ku, amal perbuatannya dikerjakan semata-mata demi mengharap sesuatu selain Aku, Aku yg lebih mengetahui  ihwal apa yg ia harapkan dengan amalannya ini. Maka baginya laknat-Ku,karena ini telah menipu orang lain dan menipu kalian malaikat, tapi tidaklah ia dapat menipu-Ku, Akulah yang maha mengetahui perkara-perkara yg ghaib. Maka Ku perintahkan  kembalilah kau ke bumi Hafazhah


Lalu Muadz bertanya, jika sungguh amalan yg sangat baik  itu terhempas balik ke bumi. Lalu bagaimana aku bisa selamat ya Rasulullah ?Nasehat nabi kepada Muadz adalah sebagai berikut :

1. Wahai Mu’adz! Ikutilah Nabi-mu ini dalam soal keyakinan sekalipun dalam amal perbuatanmu terdapat kekurangan. Wahai Mu’adz! Jagalah lisanmu dari kebinasaan dengan meng-ghiibah manusia dan meng-ghiibah saudara-saudaramu para pemikul Al-Qur’aan. Tahanlah dirimu dari keinginan menjatuhkan manusia dengan apa-apa yang kamu ketahui ihwal aibnya! Janganlah engkau mensucikan dirimu dengan jalan menjelek-jelekan saudara-saudaramu! Janganlah engkau meninggikan dirimu dengan cara merendahkan saudara-saudaramu! Pikullah sendiri aib-aibmu dan jangan engkau bebankan kepada orang lain”


2. “Wahai Mu’adz! Janganlah engkau masuk kedalam perkara duniamu dengan mengorbankan urusan akhiratmu! Janganlah berbuat riya’ dengan amal-amalmu agar diketahui oleh orang lain dan janganlah engkau bersikap takabbur di majelismu sehingga manusia takut dengan sikap burukmu!”
“Janganlah engkau berbisik-bisik dengan seseorang sementara di hadapanmu ada orang lain! Janganlah engkau mengagung-agungkan dirimu dihadapan manusia, karena akibatnya engkau akan terputus dari kebaikan dunia dan akhirat! Janganlah engkau berkata kasar di majelismu dan janganlah engkau merobek-robek manusia dengan lisanmu, sebab akibatnya di Hari Qiyamah kelak tubuhmu akan dirobek-robek oleh anjing-anjing neraka Jahannam!”


3. “Wahai Mu’adz! Apakah engkau memahami makna Firman Allah Ta’ala: ‘Wa naasyithaati nasythan!’ (‘Demi yang mencabut/menguraikan dengan sehalus-halusnya!’, An-Naazi’aat [79]:2)? Aku berkata, “Demi bapakku, engkau, dan ibuku! Apakah itu wahai Rasulullah?”
Rasulullah saw. bersabda, “Anjing-anjing di dalam Neraka yang mengunyah-ngunyah daging manusia hingga terlepas dari tulangnya!”
Aku berkata, “Demi bapakku, engkau, dan ibuku! Ya Rasulullah, siapakah manusia yang bisa memenuhi seruanmu ini sehingga terhindar dari kebinasaan?”
Rasulullah saw. menjawab, “Wahai Mu’adz, sesungguhnya hal demikian itu sangat mudah bagi siapa saja yang diberi kemudahan oleh Allah Ta’ala! Dan untuk memenuhi hal tersebut, maka cukuplah engkau senantiasa berharap agar orang lain dapat meraih sesuatu yang engkau sendiri mendambakan untuk dapat meraihnya bagi dirimu, dan membenci orang lain ditimpa oleh sesuatu sebagaimana engkau benci jika hal itu menimpa dirimu sendiri! Maka dengan ini wahai Mu’adz engkau akan selamat, dan pasti dirimu akan terhindar!”

Kedua dari Anas bin Malik


Ada lagi cerita dari sahabat nabi, Anas bin malik yang menceritakan doa seorang sahabat nabi sekaligus seorang pengusaha kala itu, sesaat mampu mengguncangkan langit hingga seluruh penghuni langit terfokus pada doanya hingga ALLAH langsung mengabulkan doanya seketika.
Dari Anas, dia bercerita,”Ada salah seorang sahabat Rasulullah, kuniyah (julukannya)nya Abu Mu’allaq. Dia seorang pengusaha yang meniagakan harta miliknya dan harta milik orang lain; dia membawanya keliling ke berbagai daerah, dan dia adalah seorang ahli ibadah dan wara’.
Suatu kali, dia keluar dan dihadang oleh seorang perampok bertopeng yang membawa senjata. Sang perampok menghardik, ’Letakkan apa yang kamu bawa, aku akan membunuhmu.’
Abu Mu’allaq berkata,’Apakah kamu hanya menginginkan darahku? Kamu boleh mengambil harta.’
‘Kalau harta, aku punya. Aku tidak menginginkan selain darahmu,’ balas si perampok.
‘Kalau hanya itu maumu, biarkan aku shalat empat rakaat dulu,’ pinta Abu Muallaq.
‘Silahkan shalat sepuasmu,’ kata si perampok.
Kemudian dia berwudhu dan shalat empat rakaat. Pada sujud terakhir dia berdoa :
"Ya Waduud, ya Dzal ‘Arsyil Majiid. Ya Fa’aalu lima yuriid. As-aluka bi-‘izzikal-ladzi la yuraam, wa mulkikal-ladzi la yudhaam, wa binuurikal-ladzi mala-a arkaana ‘Arsyik, an takfiyani syarra hadzal-lish. Yaa Mughits aghitsni, ya Mughits aghitsni"


‘Wahai Rabb Yang Maha Pengasih, wahai pemilik Arasy yang agung, wahai Rabb Yang Mahakuasa berbuat sesuatu yang dikehendakiNya, aku memohon kepadaMu dengan kemuliaanMu yang tidak akan lenyap, dengan kekuasaanMu yang tidak terkalahkan, dan dengan cahayaMu yang memenuhi seluruh sudut ArasyMu, aku memohon kepadaMu agar engkau melindungiku dari kejahatan perampok ini. Wahai Rabb Yang Maha Penolong, tolonglah aku, wahai Rabb Yang Maha Penolong, tolonglah aku.’


Dia berdoa dengannya sebanyak tiga kali. Ketika itu tiba-tiba datang seorang penunggang kuda, di tangannya ada sebuah tombak yang dia letakkan di tengah-tengah antara kedua telinga kudanya. Saat penunggang kuda melihatnya bersama perampok tersebut, maka dia menghampirinya dan menikam perampok itu sampai mati. Kemudian dia menghampiri Abu Mu’allaq seraya berkata, ’Bangkitlah.’
Abu Mu’allaq berkata,’Bapak dan Ibuku sebagai tebusanmu, siapa Anda? Allah telah menolongku pada hari ini lewat perantara Anda.’


Dia berkata,’Aku malaikat dari langit keempat. Kamu berdoa dengan doamu yang pertama, maka aku mendengar suara pintu langit (dibuka). Kemudian kamu berdoa dengan doamu yang kedua, maka aku mendengar suara hiruk-pikuk penduduk langit. Kemudian kamu berdoa dengan doamu yang ketiga, maka dikatakan padaku, ’Itu doa orang yang berada dalam kesulitan.’ Lalu aku memohon kepada ALLAH SWT. agar diberikan perintah untuk membunuhnya’.”
Anas berkata,”Ketahuilah! Barangsiapa berwudhu dan shalat empat rakaat, kemudian berdoa dengan doa ini, niscaya doanya dikabulkan, baik dalam kesempitan maupun tidak.”


Dari kitab Bidayatul Hidayat ( Perjalanan Awal mula Hidayah ) Karangan Imam Al-Ghazali
yanng disharekan di grup WA oleh mas setyawan.

0 komentar:

Posting Komentar